This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 01 April 2014

Biografi Pangeran Diponegoro

Pangeran Diponegoro (lahir di Yogyakarta, 11 November 1785 – meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, 8 Januari 1855 pada umur 69 tahun) adalah salah seorang pahlawan nasional Republik Indonesia. Makamnya berada di Makassar. Diponegoro adalah putra sulung Hamengkubuwana III, seorang raja Mataram di Yogyakarta. Lahir pada tanggal 11 November 1785 di Yogyakarta dari seorang garwa ampeyan (selir) bernama R.A. Mangkarawati, yaitu seorang garwa ampeyan (istri non permaisuri) yang berasal dari Pacitan. Pangeran Diponegoro bernama kecil Bendoro Raden Mas Ontowiryo.
Menyadari kedudukannya sebagai putra seorang selir, Diponegoro menolak keinginan ayahnya, Sultan Hamengkubuwana III, untuk mengangkatnya menjadi raja. Ia menolak mengingat ibunya bukanlah permaisuri. Diponegoro mempunyai 3 orang istri, yaitu: Bendara Raden Ayu Antawirya, Raden Ayu Ratnaningsih, & Raden Ayu Ratnaningrum.

Diponegoro lebih tertarik pada kehidupan keagamaan dan merakyat sehingga ia lebih suka tinggal di Tegalrejo tempat tinggal eyang buyut putrinya, permaisuri dari HB I Ratu Ageng Tegalrejo daripada di keraton. Pemberontakannya terhadap keraton dimulai sejak kepemimpinan Hamengkubuwana V (1822) dimana Diponegoro menjadi salah satu anggota perwalian yang mendampingi Hamengkubuwana V yang baru berusia 3 tahun, sedangkan pemerintahan sehari-hari dipegang oleh Patih Danurejo bersama Residen Belanda. Cara perwalian seperti itu tidak disetujui Diponegoro.

Riwayat perjuangan
Perang Diponegoro berawal ketika pihak Belanda memasang patok di tanah milik Diponegoro di desa Tegalrejo. Saat itu, beliau memang sudah muak dengan kelakuan Belanda yang tidak menghargai adat istiadat setempat dan sangat mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak.

Sikap Diponegoro yang menentang Belanda secara terbuka, mendapat simpati dan dukungan rakyat. Atas saran Pangeran Mangkubumi, pamannya, Diponegoro menyingkir dari Tegalrejo, dan membuat markas di sebuah goa yang bernama Goa Selarong. Saat itu, Diponegoro menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang sabil, perlawanan menghadapi kaum kafir. Semangat "perang sabil" yang dikobarkan Diponegoro membawa pengaruh luas hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu. Salah seorang tokoh agama di Surakarta, Kyai Maja, ikut bergabung dengan pasukan Diponegoro di Goa Selarong.

Selama perang ini kerugian pihak Belanda tidak kurang dari 15.000 tentara dan 20 juta gulden. Berbagai cara terus diupayakan Belanda untuk menangkap Diponegoro. Bahkan sayembara pun dipergunakan. Hadiah 50.000 Gulden diberikan kepada siapa saja yang bisa menangkap Diponegoro. Sampai akhirnya Diponegoro ditangkap pada 1830.

Biografi Pahlawan Pattimura

Pattimura, memiliki nama asli Thomas Matulessy (lahir di Hualoy, Hualoy, Seram Selatan, Maluku, 8 Juni 1783 – meninggal di Ambon, Maluku, 16 Desember 1817 pada umur 34 tahun).Ia adalah putra Frans Matulesi dengan Fransina Silahoi. Adapun dalam buku biografi Pattimura versi pemerintah yang pertama kali terbit, M Sapija menulis, "Bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayah beliau yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau merupakan nama orang di negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan".

Dari sejarah tentang Pattimura yang ditulis M Sapija, gelar kapitan adalah pemberian Belanda. Padahal tidak. Menurut Sejarawan Mansyur Suryanegara, leluhur bangsa ini, dari sudut sejarah dan antropologi, adalah homo religiosa (makhluk agamis). Keyakinan mereka terhadap sesuatu kekuatan di luar jangkauan akal pikiran mereka, menimbulkan tafsiran yang sulit dicerna rasio modern. Oleh sebab itu, tingkah laku sosialnya dikendalikan kekuatan-kekuatan alam yang mereka takuti.

Jiwa mereka bersatu dengan kekuatan-kekuatan alam, kesaktian-kesaktian khusus yang dimiliki seseorang. Kesaktian itu kemudian diterima sebagai sesuatu peristiwa yang mulia dan suci. Bila ia melekat pada seseorang, maka orang itu adalah lambang dari kekuatan mereka. Dia adalah pemimpin yang dianggap memiliki kharisma. Sifat-sifat itu melekat dan berproses turun-temurun. Walaupun kemudian mereka sudah memeluk agama, namun secara genealogis/silsilah/keturunan adalah turunan pemimpin atau kapitan. Dari sinilah sebenarnya sebutan "kapitan" yang melekat pada diri Pattimura itu bermula.

Sebelum melakukan perlawanan terhadap VOC ia pernah berkarier dalam militer sebagai mantan sersan Militer Inggris. Kata "Maluku" berasal dari bahasa Arab Al Mulk atau Al Malik yang berarti Tanah Raja-Raja. mengingat pada masa itu banyaknya kerajaan

Pada tahun 1816 pihak Inggris menyerahkan kekuasaannya kepada pihak Belanda dan kemudian Belanda menetrapkan kebijakan politik monopoli, pajak atas tanah (landrente), pemindahan penduduk serta pelayaran Hongi (Hongi Tochten), serta mengabaikan Traktat London I antara lain dalam pasal 11 memuat ketentuan bahwa Residen Inggris di Ambon harus merundingkan dahulu pemindahan koprs Ambon dengan Gubenur dan dalam perjanjian tersebut juga dicantumkan dengan jelas bahwa jika pemerintahan Inggris berakhir di Maluku maka para serdadu-serdadu Ambon harus dibebaskan dalam artian berhak untuk memilih untuk memasuki dinas militer pemerintah baru atau keluar dari dinas militer, akan tetapi dalam pratiknya pemindahn dinas militer ini dipaksakan Kedatangan kembali kolonial Belanda pada tahun 1817 mendapat tantangan keras dari rakyat.

Hal ini disebabkan karena kondisi politik, ekonomi, dan hubungan kemasyarakatan yang buruk selama dua abad. Rakyat Maluku akhirnya bangkit mengangkat senjata di bawah pimpinan Kapitan Pattimura Maka pada waktu pecah perang melawan penjajah Belanda tahun 1817, Raja-raja Patih, Para Kapitan, Tua-tua Adat dan rakyat mengangkatnya sebagai pemimpin dan panglima perang karena berpengalaman dan memiliki sifat-sfat kesatria (kabaressi). Sebagai panglima perang, Kapitan Pattimura mengatur strategi perang bersama pembantunya.

Sebagai pemimpin dia berhasil mengkoordinir Raja-raja Patih dalam melaksanakan kegiatan pemerintahan, memimpin rakyat, mengatur pendidikan, menyediakan pangan dan membangun benteng-benteng pertahanan. Kewibawaannya dalam kepemimpinan diakui luas oleh para Raja Patih maupun rakyat biasa. Dalam perjuangan menentang Belanda ia juga menggalang persatuan dengan kerajaan Ternate dan Tidore, raja-raja di Bali, Sulawesi dan Jawa. Perang Pattimura yang berskala nasional itu dihadapi Belanda dengan kekuatan militer yang besar dan kuat dengan mengirimkan sendiri Laksamana Buykes, salah seorang Komisaris Jenderal untuk menghadapi Patimura.

Pertempuran-pertempuran yang hebat melawan angkatan perang Belanda di daratdan di laut dikoordinir Kapitan Pattimura yang dibantu oleh para penglimanya antara lain Melchior Kesaulya, Anthoni Rebhok, Philip Latumahina dan Ulupaha. Pertempuran yang menghancurkan pasukan Belanda tercatat seperti perebutan benteng Belanda Duurstede, pertempuran di pantai Waisisil dan jasirah Hatawano, Ouw- Ullath, Jasirah Hitu di Pulau Ambon dan Seram Selatan. Perang Pattimura hanya dapat dihentikan dengan politik adu domba, tipu muslihat dan bumi hangus oleh Belanda. Para tokoh pejuang akhirnya dapat ditangkap dan mengakhiri pengabdiannya di tiang gantungan pada tanggal 16 Desember 1817 di kota Ambon. Untuk jasa dan pengorbanannya itu, Kapitan Pattimura dikukuhkan sebagai “PAHLAWAN PERJUANGAN KEMERDEKAAN” oleh pemerintah Republik Indonesia...... Pahlawan Nasional Indonesia. Ketuhanan yang maha esa Kemanusiaan yang adil dan beradab Persatuan Indonesia Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan kemerdekaan bagi seluruh rakyat indonesia.

Minggu, 23 Februari 2014

Biografi Présidén Soekarno B.Sunda

Biografi Présidén Soekarno

Présidén kahiji Republik Indonésia, Soekarno anu dawam digeroan Bung Karno, lahir di Blitar, Jawa Wétan, 6 Juni 1901 sarta maot di Jakarta, 21 Juni 1970. Bapana ngaranna Raden Soekemi Sosrodihardjo sarta indungna Ida Ayu Nyoman Rai. Sawaktu hirupna, anjeunna miboga tilu pamajikan sarta dikaruniai dalapan anak. Ti pamajikan Fatmawati miboga anak Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati sarta Guruh. Ti pamajikan Hartini miboga Taufan sarta Bayu, sedengkeun ti pamajikan Ratna Sari Dewi, wanoja turunan Jepang ngaranna pituin Naoko Nemoto miboga anak Kartika..

Mangsa leutik Soekarno ngan sawatara warsih hirup babarengan kolotna di Blitar. Sawaktu SD nepi ka tamat, anjeunna cicing di Surabaya, indekos di imah Haji Oemar Said Tokroaminoto, pulitisi kawakan pangadeg Syarikat Islam. Saterusna nuluykeun sakola di HBS (Hoogere Burger School). Waktu diajar di HBS éta, Soekarno geus menggembleng jiwa nasionalismenya. Saucul lulus HBS warsih 1920, pindah ka Bandung sarta melanjut ka THS (Technische Hoogeschool atawa sakola Tekhnik Luhur anu ayeuna jadi ITB). Manéhna junun ngahontal gelar "Ir" dina 25 Méi 1926.


Saterusna, anjeunna ngarumuskeun ajaran Marhaenisme sarta ngadegkeun PNI (Partéi Nasional lndonesia) dina 4 Juli 1927, jeung tujuan Indonésia Merdika. Balukarna, Walanda, ngasupkeunana ka panjara Sukamiskin, Bandung dina 29 Désémber 1929. Dalapan bulan saterusna anyar disidangkan. Dina pembelaannya dijudulan Indonésia Menggugat, anjeunna némbongkeun kemurtadan Walanda, bangsa anu ngaku leuwih maju éta.

Pembelaannya éta nyieun Walanda beuki ambek. Ku kituna dina Juli 1930, PNI ogé dibubarkan. Sanggeus leupas dina warsih 1931, Soekarno ngagabung jeung Partindo sarta sakaligus mingpinna. Balukarna, anjeunna ditéwak deui Walanda sarta dipiceun ka Ende, Flores, warsih 1933. Opat warsih saterusna dipindahkan ka Bengkulu.

Sanggeus ngaliwatan perjuangan anu cukup panjang, Bung Karno sarta Bung Hatta memproklamasikan kamerdikaan RI dina 17 Agustus 1945. Dina sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Ir.Soekarno mengemukakan alpukah ngeunaan dasar nagara anu disebutna Pancasila. Tanggal 17 Agustus 1945, Ir Soekarno sarta Drs. Mohammad Hatta memproklamasikan kamerdikaan Indonésia. Dina sidang PPKI, 18 Agustus 1945 Ir.Soekarno terpilih sacara aklamasi minangka Présidén Republik Indonésia anu kahiji.

Saméméhna, anjeunna ogé junun ngarumuskeun Pancasila anu saterusna jadi dasar (idéologi) Nagara Kahijian Republik Indonésia. Anjeunna narékahan mempersatukan nusantara. Komo Soekarno usaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, sarta Amérika Latin jeung Konférénsi Asia Afrika di Bandung dina 1955 anu saterusna ngembang jadi Gerakan Non Blok.

Pemberontakan G-30-S/PKI ngababarkeun krisis pulitik hébat anu ngabalukarkeun tampikan MPR luhur pertanggungjawabannya. Sabalikna MPR mengangkat Soeharto minangka Pajabat Présidén. Kaséhatanana terus memburuk, anu dina poé Minggu, 21 Juni 1970 manéhna maot di RSPAD. Manéhna disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta sarta dimakamkan di Blitar, Jatim di deukeut astana ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Pamaréntah menganugerahkannya minangka "Pahlawan Proklamasi".